kepercayaan orang sulawesi masa lalu

kepercayaan orang sulawesi masa lalu:

  • Aluk Todolo : diluar manusia ada tiga usur kekuatan yaitu 1. Puang Matua (penguasa langit); 2. Deata-deata (pemelihara alam raya); 3. To Mebali Puang (arwah leluhur yang jadi dewa).
  • Toani tolotang : percaya pada dewa-dewa. Ada dewa utama (Dewata Suwae), Dewata Langie (yang menghuni langit), Dewata Mallinoe ( yang menghuni tempat keramat), Dewata Uwal ( yang menghuni tempat berair).
  • Patuntung : Singkretisme agama samawi dan kepercayaan lokal. Ada seorang yang disebut “nabi” yaitu Amma Toa yang memimpin kepercayaan dan menciptakan kitab suci Patuntung.
Advertisements

Contract Met Bima 6 februari 1908

Sebuah perjanjian yang disahkan oleh Gubernur Hindia Belanda di BAtavia pada 6 Februari 1908 yang berisi :

  1. Sulatan Bima mengakui bahwa Kerajaan Bima bagian dari Hindia Belanda, bendera Belanda harus dikibarkan.
  2. Sultan Bima berjanji tidak melakukan kerjasma dengan bangsa kulit putih lain.
  3. Bila terjadi perang, maka Sultan Bima agar mau mengirim bala bantuan.
  4. Sultan Bima tidak akan menyerahkan wilayah Sultan Bima pada bangsa lain kecuali Belanda.

lanjutan ttg bima

Ini lanjutan ttg Bima:

  • Ruma Sangaji Mbojo : Sebutan sultan raja dalam bahasa daerah Bima.
  • Dewa Hadat : Dewan yang membantu raja semacam legislatif. semua keputusan raja memperhatikan pertimbangan Dewan Hadat. Dewan ini terdiri ari 24 orang pejabat tinggi yang bergelar Toreli, Janeli dan Bumi. Dewan ini dipimpin oleh seorang Raja Bicara.
  • Toreli : Raja bicara.
  • Janeli : Dewan Legislatif dan kepala distrik.
  • Bumi : Majelis hakim, dipimpin oleh Bumi Luma Laranae dan Bumi Lara Bolo. Bumi ini bertugas mnegadili suatu perkara dan Raja Bicara yang memutuskan hukuman.
  • Rato Parenta : Pembantu raja yang mengurusi protokoler kelarjaan.
  • Rato Ncandi : sama dengan Rato Parenta.
  • Bumi Saritunggu : Pembantu raja yang mengurusi pelayanan umum.
  • Bumi Ndora : Tugasnya sama dengan Bumi Saritunggu.
  • Bumi Preka : Pembantu yang mengurusi urusan rumah tangga kerajaan khusus membuat pakaian.
  • Bumi Daka-tau : Mengurus yang berhubungan dengan makan.
  • Bumi Ndora : Mengurus perawatan senjata.
  • Amba Nea : Tempat raja dilantik di depan pasar depan istana.
  • Bumi Prisi Mbojo : Penghubung kerajaan dengan pihak luar.
  • Bumi Prisi Kae : sama dengan Bumi Prisi Mbojo.
  • Bumi Prisi Bolo : sama dengan Bumi Prisi Mbojo.
  • Agge-adda : Penyerahan hasil produksi tanah pertanian kepada sultan di kerajaan Bima.
  • Massa-sura : Penyerahan hasil uang yang dikumpulkan tiap tahun dari berbagai distrik di Bima kepada raja.

Kerajaan Bima 1651

  • Kerajaan Bima pada masa Sultan Abdulkadir Sirajudin (1651) membuat keputusan penting yaitu:
  1. Penyesuaian hukum Islam sehingga pemerintah kerajaan berjalan sebagai kerajaan Islam.
  2. Penyesuaian Bentuk Majelis Kerajaan; majelis Sara, majelis Hadas, Majelis Sara Tua, Majelis Sara tua, Majelis Hukum.
  3. Memberikan kedudukan tinggi bagi para mubaligh.
  4. Penyempurnaan Kitab Catatan Kerajaan dengan menulis BO pada kertas dengan huruf Arab dan bahasa Melayu.
  5. Menerapkan HAri Besar Kerajaan yang diperingati tiap tahun. Hari besar tersebut disebut RAwi Sara Ma Tolu Kali Sa Mbaa: HAri MAulud NAbi; Idul Fitri; Idul Adha.

post 1

  1. Wayang Poe-Tee-Hie : Wayang tiongkok/ wayang klitik/ golek Tiongkok.
  2. OSVIA : Opleidings School voor Inlandsche Ambtenaren = sekolah Calon Pegawai Bumi Putera.
  3. Jer Basuki Mawa Bea : Meraih kesejahteraan butuh biaya.
  4. Aksi Tandhim : Sebuah ide yang dibicarakan dalam Konggres SI (Sarekat Islam) tanggal 24-27/1/1930, mengenai ide penghapusan kerja paksa.

  1. Galarang : Gelar kepala kampung pada masa Kerajaan Bima yang kedudukannya langsung dibawah sultan.
  2. Lebe : sama dengan Galarang.
  3. Dou Ma Tua (orang tua-tua) : Pemerintah atau kelapa kampung di perkampungan sekitar ibu kota Kerajaan Bima / tempat para pembesar kerajaan tinggal.
  4. Naib : Wakil raja atau sultan yang memerintah Kerajaan Bima di Flores Barat/ Manggarai dari daerah Reo dan Pota.
  5. Dalu : Seorang kepala rendahan yang mengepalai distrik pada masa Kerajaan Bima.
  6. Ornamentsvelden : Panen dari tanah adat.
  7. Ruma : Tingkat keningratan pembesar-pembesar Kerajaan Bima.
  8. Rato : Sama dengan Ruma.
  9. Pandelingan : Masyarakat klas bawah yang suka melakukan kejahatan dan pelanggaran hukum.
  10. Dari : Kelompok-kelompok masyarakat yang mempunyai keahlian tertentu pada masyarakat Bima.
  11. Henca : Makluk supranatural dalam kepercayaan masyarakat Bima sebelum Islam seperti masyarakat Donggo (penduduk asli Bima).
  12. Parafu-Pamboro : Roh nenek moyang.
  13. Ncuhi : Kepala-kepala suku pada masyarakat Bima.
  14. Sangaji : Seorang raja yang diangkat oleh kesepakatan para Ncuhi sekitar tahun 1575-an di Bima.
  15. Senapati Sarwwajala : seorang pejabat yang berhubungan dengan tugas-tugas kelautan pada masa Kerajaan Kediri 1181 M.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!